SINDROM IRITASI USUS BESAR - MENGUAK PIKIRAN YANG TERGANGGU DAN USUS YANG KACAU

Published On: 12/09/2025

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 1

PROLOG

Di seluruh dunia, tingkat insiden dan prevalensi sindrom iritasi usus besar (IBS) cukup tinggi sampai mengganggu kehidupan sehari-hari individu dalam cara yang berbeda-beda. Baik itu melalui efek psikologis atau dampak sosial, IBS dapat menyulitkan individu, dan dapat terjadi di saat yang tak terduga. Bagi orang awam, memahami IBS dapat menjadi hal yang sulit, karena banyak yang tidak memahami bagaimana usus yang secara struktur baik-baik saja, dapat menyebabkan rasa sakit yang begitu intens. Ini bukanlah hal yang mengagetkan, karena dokter dan peneliti masih mencoba untuk sepenuhnya memahami apa itu IBS dan penyebabnya. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan agar dapat sepenuhnya memahami IBS di satu hari nanti, kita masih memiliki petunjuk mengenai faktor pemicu IBS, misalnya, riwayat infeksi pencernaan, makanan tertentu, obat-obatan, gangguan pada ekosistem mikrobiota usus, faktor psikososial (stres), dan faktor genetik.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 2

Gambar 1: Potensi pemicu atau faktor pendukung IBS – pemahaman hingga saat ini (gambar diambil dari situs PMI Homeo).

Di antara kemungkinan faktor pendukung IBS, komponen psikososial adalah faktor yang kompleks. Memberi tahu pasien bahwa penyakit ini muncul hanya karena stres tidak akan banyak membantu, namun mengetahui riwayat dengan detail dan membangun impresi yang baik dapat membuat diskusi lebih lancar. Setelah mendapat diagnosis, pasien IBS umumnya membutuhkan panduan, edukasi, dukungan emosional, dan kunjungan lanjutan ketika gejala kambuh dan sulit ditangani.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 3

Gambar 2: Interaksi usus-otak menunjukkan hubungan komunikasi yang kompleks, yang bekerja untuk memastikan usus berfungsi optimal. Gangguan pikiran akan mempengaruhi organ pencernaan; begitu pula sebaliknya, usus yang bermasalah akan berdampak pada otak (gambar diambil dari situs Dr Chiragthakkar).

SKENARIO KASUS 1

Ibu Tam, usia 62 tahun, adalah salah satu contoh pasien IBS. Ia telah mengalami sindrom iritasi usus besar hampir 30 tahun. Gejalanya meliputi kram perut yang hilang-timbul, menyerupai gelombang, dan menyebabkan feses encer dan kekuningan. Ia tidak mengetahui penyebabnya, namun ia merasa lebih baik setelah buang air besar (BAB). Jika kondisi sedang buruk, episode gejala ini dapat muncul hingga enam kali dalam sehari, dan tidak dapat diprediksi. Volume diare juga tidak selalu banyak; terkadang yang keluar hanya sedikit feses seperti lendir, namun tidak berdarah. Awalnya, ia mengonsumsi obat yang dijual bebas, seperti Loperamide dan Buscopan. Namun, ketika obat ini tak lagi bekerja, ia mengunjungi dokter umum untuk mendapat suntikan intramuskular agar nyerinya mereda, dan mengonsumsi Lomotil dalam beberapa hari ke depan. Kualitas hidupnya pun memburuk. Ia menyadari beberapa jenis makanan yang tak dapat dikonsumsi, termasuk produk berbahan dasar susu, beberapa jenis buah dan sayur, dan hampir semua jenis polong dan kacang-kacangan. Selain itu, banyak jenis makanan lain yang memicu gejalanya, membuatnya sulit makan dan kehilangan berat badan yang signifikan. Dokter umumnya kemudian merujuknya ke dokter spesialis gastroenterologi. Ia menjalani endoskopi dan kolonoskopi, beserta tes laboratorium, ultrasonografi (USG), dan CT scan, yang tidak menunjukkan kelainan. Ia diresepkan berbagai obat-obatan, dan dalam sepuluh tahun ke belakang, ia telah berkonsultasi dengan beberapa dokter spesialis lain. Gejala umumnya membaik sementara, namun tidak pernah bertahan. Gejalanya akan kambuh dalam beberapa minggu setelah ia mengonsumsi obat-obatan. Ia diberi tahu bahwa ia menderita IBS dan telah diresepkan obat-obatan yang sama—antispasmodik (Meteospasmyl atau Duspatalin), Loperamide, dan yang terakhir, probiotik multi-strain. Ibu Tan sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, memilih untuk tidak menghadiri acara sosial atau berbelanja di akhir pekan, karena mencemaskan episode IBS yang tidak dapat ditebak.

REFLEKSI

Tentunya, IBS bukanlah masalah yang sederhana; kondisi ini dapat memburuk hingga secara signifikan berdampak buruk pada kualitas hidupnya. Walaupun kebanyakan pasien awalnya dapat merasa cemas, masalah dan gejala berulang yang dialami pasien dapat semakin menguatkan rasa takutnya. Selain itu, karena IBS adalah masalah interaksi usus-otak, merasakan kecemasan hebat tidak akan membantu, justru semakin memperkuat lingkaran setan dari pikiran yang kusut dan usus yang kacau. Jika hal ini terjadi pada lansia, kesendirian yang dirasakan akibat sindrom sarang kosong (empty next syndrome) hanya akan membuat mereka semakin terisolasi dari komunitasnya, dan berdampak negatif pada psikisnya. Jika IBS menyerang individu muda yang tengah meniti karir, hal ini dapat menyulitkan mereka untuk berfungsi di tempat kerja, terlambat menyelesaikan pekerjaan, hingga memutus kemungkinan mereka mendapat promosi dan kenaikan gaji, yang kemudian dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan moralnya.

SKENARIO KASUS 2

Nona Ryuku, usia 35 tahun, seorang eksekutif di bidang keuangan dan wirausahawan, adalah wanita sukses. Ia adalah perancang yang cermat dan sistematis dengan cara kerja yang perfeksionis, dan memiliki dua orang anak. Kehidupan pribadi dan keluarganya tidak banyak berubah dalam sepuluh tahun terakhir sejak ia mulai bekerja dan meniti karirnya di perusahaannya. Namun, saat ia mencapai level manajerian kedua, pekerjaannya semakin berat. Ia sering kali diharuskan untuk berpergian ke luar kota, dalam negeri, bahkan terkadang ke luar negeri, hingga dua kali dalam seminggu. Ia berusaha untuk mengimbangi semuanya, dan walaupun ia awalnya menikmati adrenalinnya, lama-kelamaan ia lelah. Ia beberapa kali hanya mengonsumsi makanan dalam kemasan, makanan instan, kopi murah, dan minuman berenergi, serta tidak cukup tidur agar dapat membuat bosnya senang dan mencapai indikator kinerja utamanya. Walaupun ini membuat CV dan perusahaannya terlihat bagus, ia menukarnya dengan ketenangan pikirannya. Setahun sebelum ia mengunjungi saya, ia mengeluhkan beberapa insiden kram perut yang parah – pada awalnya di kanan, kemudian di kiri, dan terkadang di bagian bawah. Ia merasa perutnya bergas, mudah penuh walaupun hanya makan sedikit, kembung, dan terkadang mual. Gejala ini berlangsung beberapa minggu, dan seiring nafsu makannya yang menurun, begitu pula berat badannya. Sebulan setelah gejala muncul, selain gejala awal, ia mulai mengalami diare parah, yang dalam kondisi terburuknya, dapat terjadi 4-6 kali sehari. Ia merasa lebih baik setelah buang air besar (BAB), sehingga hampir dapat berfungsi normal. Namun, ia cemas kapan episode gejala berikutnya muncul. Ia sangat terpengaruh oleh hal ini, dan memutuskan untuk mengunjungi dokter spesialis di fasilitas kesehatan lain, dan menjalani endoskopi, kolonoskopi, tes darah, dan USG perut dan panggul, yang tidak menunjukkan kelainan. Ia tidak diberikan banyak informasi mengenai kondisinya, namun diresepkan Loperamide dan Duspatalin untuk dua minggu, yang meredakan gejalanya. Namun, setelah berhenti mengonsumsi obat-obatan tersebut, gejala muncul kembali, walau awalnya ringan, namun kini semakin parah. Ia tidak pernah melanjutkan kunjungan ke dokter karena kesibukannya, hingga akhirnya menyerah untuk mencari pengobatan lebih lanjut; ia meyakini bahwa ini adalah normal yang baru baginya, dan kondisi yang harus ia jalani.

REFLEKSI

Nona Ryuku tidak harus menderita sedemikian rupa. Penelitian modern, yang memberi pemahaman lebih baik mengenai IBS, telah memungkinkan adanya strategi baru untuk mengatasi gejalanya—baik itu melalui konseling, perubahan gaya hidup dan pola makan, suplemen probiotik, terapi medis, atau neuromodulator (seperti ansiolitik atau antidepresan). Namun, di Asia, konsep mengenai pasien yang diresepkan neuromodulator masih menjadi stigma, dan pasien kerap bertanya-tanya mengapa dokter meresepkan antidepresan untuk masalah pencernaan—namun, neuromodulator adalah salah satu obat-obatan terbaik yang telah menjalani pengujian yang ketat untuk mengatasi berbagai penyakit terkait interaksi usus-otak, termasuk IBS. Pasien membutuhkan penjelasan detail namun sederhana mengapa obat ini dibutuhkan ketika gejala IBS tak lagi dapat diatasi dengan metode penanganan lain, bagaimana obat ini membantu mengembalikan atau memperbaiki sensitivitas saraf seiring waktu, dan yang paling penting, bahwa obat-obatan ini tidak perlu dikonsumsi dalam jangka panjang. Meski meresepkan neuromodulator dapat terlihat sebagai langkah yang intens, penting untuk meyakinkan pasien, membantu mereka ketika mengalami efek samping, memberikan penjelasan yang detail, dan memberikan opsi penghentian obat. Namun, beberapa pasien dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut melalui kerja sama dengan psikolog gastrointestinal, psikiater, dan dietisien. Jadi, tetaplah berpikiran terbuka saat dokter spesialis gastroenterologi Anda membahas topik kesehatan mental. Pada akhirnya, kita memang tengah berada di masa serbacepat, masa ketika semua orang terlalu sibuk mengurusi hal lain kecuali diri mereka sendiri.

PENGENALAN SINGKAT – KRITERIA DIAGNOSIS

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 4

Gambar 3: Bagan alur kerja kriteria diagnosis Rome IV untuk berbagai subtipe sindrom iritasi usus besar (gambar diambil dari situs emorymedicine).

Namun, tidak semua kondisi menunjukkan gejala IBS. Kita harus memahami bahwa kondisi lain juga dapat mempengaruhi usus kita. Beberapa gejala mungkin berlangsung terlalu singkat sehingga tidak mengkhawatirkan, namun gejala lain dapat bertahan lebih lama, atau lebih serius. Dokter menggunakan bagan alur kerja untuk membantu menentukan diagnosis IBS (lihat Gambar 3). Beberapa yang utama adalah durasi gejala, frekuensi dan tingkat intensitasnya, dan gejala yang hilang-timbul dengan pemicu yang jelas.

Dokter Anda dapat menyatukan kepingan-kepingan petunjuk tersebut untuk menanyakan riwayat medis Anda secara menyeluruh. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dokter Anda mungkin tanyakan, yang dapat membantu Anda mempersiapkan konsultasi:

  • Gejala dominan – konstipasi atau diare.
  • Gejala yang menyertainya – kembung, kram dan nyeri perut, gejala terkait makanan atau pola BAB.
  • Morfologi (bentuk) feses – keras, berbentuk bulat kecil, lunak, atau encer.
  • Warna feses – hijau (umumnya karena obat-obatan atau infeksi), kekuningan, hitam, atau cokelat, beri tahu jika terdapat darah.
  • Durasi – kemunculan awal gejala yang Anda amati, walaupun terdapat masa ketika Anda membaik dan tidak mengalami gejala.
  • Frekuensi – berapa kali dalam sehari, atau seminggu, Anda mengalami gejala-gejala tersebut?
  • Tingkat keparahan – intensitas gejala Anda, apakah stagnan atau memburuk?
  • Waktu – apakah gejala hanya berlangsung saat Anda terbangun, atau ada gejala yang menyertai saat malam, yang menunjukkan adanya perubahan patologis?
  • Faktor pemicu – jenis makanan tertentu yang memicu gejala, gejala yang muncul terkait emosi, pola tidur, stres akibat kerja atau keluarga.
  • Faktor pereda – hal yang membantu meringankan gejala, apakah Anda mencoba lebih rileks, berhenti berfokus pada kesibukan Anda, dan memutuskan untuk beristirahat dari semuanya, atau mendengarkan musik yang menenangkan?
  • Tanda bahaya – lihat Gambar 4 di bawah.
  • Perubahan diet – akan membantu untuk Anda mencatat perubahan diet, misalnya ketika Anda lebih sering makan di luar, melewatkan waktu makan, mengadopsi intermittent fasting, mengonsumsi lebih banyak protein dan lemak, atau mengonsumsi lebih banyak serat dari yang disarankan.
  • Obat-obatan – catat obat-obatan yang Anda konsumsi, termasuk suplemen, vitamin, obat dan jamu tradisional, booster, stimulan, serta jus atau minuman khusus yang Anda konsumsi akhir-akhir ini.
  • Riwayat keluarga – bukan hanya penyakit, namun juga kondisi pencernaan yang ringan; IBS dapat diturunkan dalam keluarga, dan dapat menyerupai penyakit lain yang terkait sumbu usus-otak.
  • Riwayat gaya hidup – termasuk merokok dan konsumsi alkohol.
  • Riwayat perjalanan – tinggal di sebuah negara dalam waktu yang lama, baik itu untuk bekerja atau berlibur, mencicipi berbagai kuliner, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru – perubahan signifikan dalam kehidupan dikenal dapat memicu gejala IBS.
  • Riwayat pola tidur – apakah Anda tidur cukup, pukul berapa Anda tidur, apakah Anda terbangun di tengah malam dan sulit tidur lagi, apakah Anda mengantuk di siang hari, apakah Anda merasa lelah bahkan setelah tidur nyenyak, atau apakah Anda bergantung pada obat tidur (Xanax, Lorazepam, Zolpidem, Dayvigo, pil atau koyo melatonin, obat batuk, obat-obatan yang memicu kantuk, seperti Tramadol, Lyrica, Gabapentin, Cinnarizine, Amitriptyline, ansiolitik dan/atau antidepresan).
  • Kepribadian – sering kali, dokter dapat memperkirakan penyakit dari cara Anda berbicara dan pembawaan diri Anda saat wawancara, misalnya cemas, gelisah, atau apatis.
  • Tinjauan sistematis – ini adalah tahap ketika dokter Anda meninjau rangkaian gejala untuk memahami semua sistem organ dalam tubuh, sehingga mereka tidak melewatkan potensi penyakit lain.
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 5

Gambar 4: Gejala peringatan yang tidak boleh diabaikan, karena gejala berikut dapat membedakan IBS dari penyakit lain, atau penyakit yang lebih serius, misalnya penyakit radang usus besar, infeksi pencernaan kronis, dan kanker kolorektal (gambar diambil dari situs aboutibs.org).

PENYELIDIKAN

Pasien dengan IBS yang belum terdiagnosis akan menjalani pemeriksaan laboratorium yang komprehensif, termasuk analisis darah dan feses. Tergantung pada usia pasien, faktor risiko, dan riwayat penyakit pencernaan dalam keluarga, pasien dapat disarankan menjalani evaluasi lanjutan dengan ultrasonografi (USG), endoskopi, dan kolonoskopi, tergantung pada kasusnya.

MENANGANI IBS - TIPS UTAMA

Cara Menangani IBS dan Meningkatkan Kualitas Hidup

1. Memahami Pemicu

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 6

Gambar 5: Gejala umum sindrom iritasi usus besar (IBS) – mengenali gejala Anda dapat membantu mengidentifikasi apa yang memicu gejala tersebut (gambar diambil dari situs The Los Angeles Times).

Salah satu langkah awal penanganan IBS adalah mengidentifikasi pemicu Anda. Jenis makanan tertentu, stres, atau gaya hidup sering kali memicu gejala IBS. Catat dengan detail makanan, gejala, dan aktivitas dapat menunjukkan pola. Ketika pemicunya sudah teridentifikasi, Anda dapat mulai mengurangi atau menghindarinya.

  • Catat apa yang Anda makan dan minum, serta porsi dan jadwal makan.
  • Catat gejalanya (nyeri, kembung, perubahan pola BAB) setiap hari.
  • Pantau tingkat stres dan perubahan dalam hidup Anda.

Dengan informasi ini, Anda dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan profesional untuk merancang penanganan yang dipersonalisasi. Kami mengerti betapa sulit hal ini, terutama di Penang, surga makanan, namun jika Anda berusaha untuk memperhatikan diet Anda, ini dapat berujung pada hasil yang positif.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 7

Gambar 6: Kemungkinan pemicu sindrom iritasi usus besar, tidak semua orang merasakan hal yang sama – ketahui apa yang memicu Anda, dan berusahalah untuk menguranginya untuk meredakan gejala.

2. Sesuaikan dan Perhatikan Diet Anda

Diet memiliki peran penting dalam penanganan gejala IBS. Walaupun pemicu dapat berbeda-beda, penyesuaian diet berikut umumnya disarankan:

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 8

Gambar 7: Daftar singkat diet FODMAP agar pasien dapat menerapkan mindful eating dan mencatat makanan yang dikonsumsi tiap harinya, serta mencatat perbaikan pada gejala (gambar diambil dari situs IBS Group).

  • Coba terapkan diet Low FODMAP: FODMAP adalah jenis karbohidrat tertentu yang diketahui dapat memicu gejala IBS di banyak orang. Diet low FODMAP berarti mengurangi makanan seperti bawang bombay, bawang putih, gandum, beberapa jenis buah, dan susu. Konsultasi dengan dietisien untuk mengimplementasikan diet ini dengan aman.
  • Makan teratur: Hindari melewatkan waktu makan, dan cobalah untuk makan tepat waktu untuk membantu mengatur kerja pencernaan.
  • Tingkatkan konsumsi serat larut air: Serat ini larut dengan mudah dalam air, membentuk zat seperti gel di dalam sistem pencernaan, yang memperlambat pencernaan dan membantu mengendalikan kadar gula darah dan tingkat kolesterol. Serat ini diketahui dapat menyehatkan usus dengan berperan sebagai prebiotik, yang menjadi santapan bakteri usus (probiotik) untuk membantu menciptakan mikrobioma usus yang sehat. Makanan seperti oat, wortel, dan psyllium husk dapat membantu Anda, sekaligus mengatasi konstipasi dan diare. Tingkatkan konsumsi serat secara bertahap (asupan yang disarankan adalah 25-30 gram), dan perhatikan dampaknya.
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 9

Gambar 8: Ilustrasi yang menggambarkan seperti apa asupan 25-30 gram serat. Dengan banyak informasi yang tersedia daring, membuat menu makanan akan relatif lebih sederhana (gambar diambil dari situs Auckland University of Technology).

  • Tetaplah Terhidrasi: Minum banyak air sepanjang hari, terutama jika gejala Anda adalah diare.
  • Batasi Makanan Berlemak dan Makanan Olahan: Makanan tinggi lemak dan yang terlalu banyak menjalani proses olahan dapat memperparah gejala bagi sebagian orang.
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 10

Gambar 9: Makanan olahan dan ultra-process diketahui dapat mengganggu mikrobioma usus karena peradangan, dan memiliki kandungan FODMAP yang tinggi. Makanan ini juga mengandung sedikit serat, dan sebaliknya, tinggi zat pengemulsi (penstabil makanan) dan gula yang dapat memperparah iritasi usus dan peradangan.

  • Kurangi Kafein dan Alkohol: Keduanya dapat menjadi zat iritan bagi usus dan dapat memperparah gejala IBS pada beberapa individu. Walaupun tidak langsung menyebabkan IBS, kafein dan alkohol diketahui dapat mengubah motilitas usus, memicu disbiosis usus, dan memperparah hipersensitivitas viseral.

3. Mengelola Stres dengan Efektif

Stres diketahui sebagai faktor yang memperparah IBS. Menerapkan teknik pengelolaan stres dapat meringankan gejala dan memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 11

Gambar 10: Terapi kognitif perilaku berpusat pada pikiran, tindakan, dan perilaku pasien. Dengan memahami bagaimana pasien merespon situasi, ahli terapi dapat membantu mereka mengidentifikasi dan mengubah pikiran negatif dan perilaku pasien untuk memperbaiki emosi, suasana hati, dan fungsi otak secara keseluruhan (gambar diambil dari situs hopeway.org).

  • Menerapkan Teknik Mindfulness dan Relaksasi: Teknik seperti meditasi, yoga, pilates, teknik pernapasan, dan relaksasi otot dapat mengurangi kecemasan dan membantu mengatasi gejala.
  • Terapi Kognitif Perilaku (CBT): CBT efektif meringankan gejala IBS, terutama jika pasien mengalami kecemasan dan depresi. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu mengawali langkah penyembuhan.
  • Olahraga Rutin: Aktivitas seperti berjalan, berenang, atau bersepeda dapat memicu produksi endorfin, yang dapat memperbaiki suasana hati dan fungsi pencernaan.
  • Utamakan Kualitas Tidur: Kurang tidur dapat memperparah gejala IBS, jadi coba untuk menjaga pola tidur yang teratur dan kebiasaan positif sebelum tidur. Kurangi waktu layar dan suara keras, buat pencahayaan lebih redup, dan mainkan musik yang lembut untuk menciptakan suasana yang tenang jika membantu.

4. Obat-obatan dan Suplemen

Bagi beberapa orang, perubahan diet dan gaya hidup mungkin tidak cukup. Beberapa opsi obat yang dijual bebas dan obat resep dapat membantu:

  • Antispasmodik: Obat-obatan ini membantu membuat otot usus lebih rileks, sehingga mengurangi nyeri dan kram. Di Malaysia, terdapat tiga obat antispasmodik yang dapat dikonsumsi, yaitu Meteospasmyl (alverine dan simethicone), Duspatalin (mebeverine hydrochloride) dan Dicetel (pinaverium bromide)
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 12

FGambar 11: Duspatalin – salah satu obat antispasmodik yang umum diresepkan untuk IBS di Malaysia (gambar diambil dari situs MMS Malaysia).

  • Laksatif: Dapat digunakan untuk IBS dengan gejala dominan konstipasi, namun harus dengan resep dokter. Anda dapat menggunakan lubrikan atau laksatif osmotik – Duphalac (lactulose) atau FORLAX (macrogol). Jika gejala berlanjut, maka tahapan selanjutnya adalah laksatif stimulan – Dulcolax (bisacodyl) atau Senokot (ekstrak senna). Enema dan supositoria tidak disarankan dilakukan tanpa panduan dokter.
  • Anti-diare: Opsi seperti Loramide (loperamide) dan cholestyramine dapat membantu mengatasi IBS dengan gejala dominan diare.
  • Probiotik: "Bakteri baik' dapat membantu menyeimbangkan mikrobioma usus dan dapat meringankan beberapa gejala IBS. Salah satu probiotik multistrain yang paling dikenal di Malaysia adalah HEXBIO MCP Granule.
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 13

Gambar 12: HEXBIO MCP Granule, probiotik multistrain produksi dalam negeri yang dapat digunakan sebagai penanganan tambahan untuk semua subtipe IBS (gambar diambil dari situs brcobes.com).

  • Obat Resep: Untuk gejala yang parah, tenaga kesehatan Anda dapat meresepkan obat yang secara khusus ditujukan untuk penderita IBS, yaitu yang dapat mempengaruhi motilitas atau sensitivitas usus. Untuk IBS dengan gejala dominan konstipasi, dokter dapat meresepkan jenis prokinetik seperti Resolor (prucalopride), sedangkan pasien IBS dengan gejala diare, dokter dapat meresepkan opsi tambahan seperti Viberzi (eluxadoline), walaupun belum tersedia di sini. Pasien dengan gejala kembung dapat terbantu dengan Maalox Plus (simethicone), sedagkan untuk pertumbuhan bakteri berlebih, dokter dapat menyarankan Rifaximin (antibiotik khusus untuk pencernaan).
  • Neuromodulator: termasuk obat-obatan yang mengatasi gejala di pencernaan dan di otak, bertujuan untuk mengembalikan interaksi yang sehat, dan diharapkan dapat membantu pemulihan seiring waktu. Pasien di negara ini jarang mencoba untuk mengonsumsi obat-obatan ini, kecuali mereka telah mencoba semua opsi yang ada, atau gejala mereka terlalu parah dan mengganggu kesehariannya. Contoh obat-obatan ini meliputi tricyclic (Tryptomer, Amitriptyline) dan penghambat penyerapan kembali serotonin-noradrenalin (Duloxetine, Cymbalta).

Terlepas dari berbagai opsi farmakoterapi, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional mengenai opsi obat-obatan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

5. Menjaga Kebiasaan Baik untuk Pencernaan

<

Menerapkan kebiasaan baik yang mendukung kesehatan sistem pencernaan Anda dapat meringankan gejala dalam jangka panjang:

  • Makan Perlahan dan Terakan Mindful Eating: Kunyah makanan Anda perlahan dan hindari makan terburu-buru. Gigi Anda memiliki peran untuk memecah makanan Anda menjadi bagian yang lebih kecil, sehingga memudahkan kerja usus Anda. Saat makan, berfokuslah pada makanan Anda, dan hindari distraksi yang membutuhkan konsentrasi penuh, misalnya makan dan bekerja di saat bersamaan.
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 14

Gambar 13: Pasang penghitung waktu selama 15-20 menit jika dibutuhkan, duduk alih-alih berdiri, fokus pada makanan tanpa distraksi (termasuk telepon genggam, buku, pekerjaan, dan TV), makan bersama teman dan keluarga, minum di antara tiap siapan, kunyah makanan perlahan, dan jadwalkan waktu khusus untuk makan, sehingga Anda tidak mudah kembali lapar, atau terburu-buru menghabiskan makanan.

  • Hindari Makan dalam Porsi Besar: Makan dalam porsi yang lebih kecil, namun lebih sering, untuk mengurangi tekanan pada pencernaan Anda. Berhenti makan ketika Anda sudah 60% kenyang.
  • Jadwalkan Waktu BAB: Cobalah untuk menggunakan toilet untuk BAB di waktu yang sama, terutama setelah makan.
  • Batasi Konsumsi Pemanis Buatan: Beberapa pengganti gula dapat memicu gejala IBS pada individu yang sensitif.

6. Komunikasi dengan Tim Tenaga Kesehatan Anda

Keberhasilan penanganan IBS sering kali membutuhkan kerja sama. Pastikan Anda tetap dapat menghubungi tenaga kesehatan Anda, terutama ketika gejala berubah atau masalah baru muncul.

  • Tanyakan kondisi dan opsi penanganan untuk Anda.
  • Mintalah rujukan ke dokter spesialis jika gejala masih belum dapat diatasi.
  • Diskusikan kesehatan mental secara terbuka, karena IBS berkaitan erat dengan kesehatan mental.

7. Coba Terapi Alternatif

Pendekatan lain dapat membantu meringankan gejala bagi sebagian orang:

  • Akupunktur: Beberapa individu melaporkan gejala membaik dengan pengobatan akupunktur. Diperlukan studi klinis skala besar untuk mengonfirmasi efektivitas dan keamanannya, namun berbagai penelitian mengindikasikan bahwa akupunktur dapat membantu menangani IBS. Publik sebaiknya mencari ahli akupunktur yang memiliki kualifikasi dan berpengalaman yang menyediakan perawatan tambahan. Ini merupakan temuan umum di abad ke-21, yaitu ketika pengobatan alternatif memiliki prospek untuk menyembuhkan berbagai kondisi medis.
IRRITABLE BOWEL SYNDROME 15

Gambar 14: Minyak peppermint dan biji jintan mengandung zat spasmodik yang membantu mengurangi gejala nyeri dan kram perut, kembung, dan gas berlebih. Sayangnya, keduanya tidak tersedia di Malaysia. Keduanya dijual bebas di negara seperti Australia, Inggris, dan Kanada. Apakah suplemen ini dapat dibeli melalui berbagai platform e-commerce adalah isu lain. Namun, pastikan Anda melakukan riset sebelum membeli barang tersebut secara daring (gambar diambil dari situs ca.naturalfactors.com).

  • Herbal Remedies: Kapsul minyak peppermint dan biji jintan, serta beberapa teh herbal (seperti chamomile dan jahe), dapat meringankan masalah pencernaan. Selalu periksa kecocokan dengan obat-obatan lain.
  • Hipnoterapi: Hipnoterapi yang berfokus pada pencernaan telah menunjukkan potensi untuk meredakan gejala IBS bagi beberapa pasien. Pada akhirnya, terapi ini bertujuan untuk mendorong proses relaksasi dan suasana hati yang lebih positif.

8. Carilah Informasi dan Dukungan

Riset IBS terus dilakukan, dan cara penanganan baru terus ditemukan. Ambil langkah proaktif dalam penanganan IBS:

  • Baca informasi dari sumber terpercaya, dan dapatkan kabar terbaru mengenai kemajuan dalam penanganan IBS.
  • Ikuti kelompok dukungan untuk membangun koneksi dengan pasien lain. Di Malaysia, opsi ini jarang ditemukan, dan saya menyarankan pasien untuk mencari bantuan dari lembaga agama, atau komunitas di sekitar mereka.
  • Ingat bahwa pengalaman IBS bagi tiap orang berbeda-beda, dan menemukan apa yang berhasil mengatasinya dapat membutuhkan waktu lebih. Saran yang tidak kalah pentingnya adalah untuk tidak mengikuti opini dari non-profesional dan opini yang tidak tepat mengenai makanan dan nutrisi. Apa yang tidak efektif bagi sebagian pasien IBS tidak berarti bahwa metode tersebut tidak cocok untuk Anda. Jadilah diri Anda sendiri, dan catat gejala serta asupan makanan Anda.

9. Kapan Harus Mencari Bantuan Medis

IRRITABLE BOWEL SYNDROME 16

Gambar 15: Ingat tanda peringatan Anda, dan ketahui gejala yang bukan terkait IBS (gambar diambil dari situs North Kansas City Hospital).

Walaupun IBS sering kali dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup dan diet, gejala tertentu membutuhkan evaluasi segera oleh tenaga kesehatan:

  • Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya
  • Pendarahan rektal
  • Nyeri hebat dan tak kunjung reda
  • Gejala yang mengganggu keseharian Anda meskipun telah mencoba diatasi

Gejala tersebut dapat mengindikasikan kondisi lain selain IBS, dan membutuhkan bantuan medis.

KESIMPULAN

Mengidap IBS dapat membuat Anda mengalami kesulitan sehari-hari, namun dengan informasi yang tepat dan strategi yang proaktif, terdapat kemungkinan untuk meredakan gejala dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Dengan mengetahui pemicu Anda, menyesuaikan diet, mengelola stres, dan bekerja sama dengan tim tenaga kesehatan Anda, Anda dapat secara efektif mengontrol gejala IBS Anda. Ingat, kesabaran adalah kunci—pemulihan mungkin terasa lambat, namun konsistensi pada akhirnya akan terbayar. Ambil langkah sederhana, dan rayakan keberhasilan kecil Anda dalam prosesnya.


Spesialisasi Kami

Muat lebih banyak
Loading...
Thank you for your patience
Click to know more!
aad blue heart