
Di seluruh dunia, tingkat insiden dan prevalensi sindrom iritasi usus besar (IBS) cukup tinggi sampai mengganggu kehidupan sehari-hari individu dalam cara yang berbeda-beda. Baik itu melalui efek psikologis atau dampak sosial, IBS dapat menyulitkan individu, dan dapat terjadi di saat yang tak terduga. Bagi orang awam, memahami IBS dapat menjadi hal yang sulit, karena banyak yang tidak memahami bagaimana usus yang secara struktur baik-baik saja, dapat menyebabkan rasa sakit yang begitu intens. Ini bukanlah hal yang mengagetkan, karena dokter dan peneliti masih mencoba untuk sepenuhnya memahami apa itu IBS dan penyebabnya. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan agar dapat sepenuhnya memahami IBS di satu hari nanti, kita masih memiliki petunjuk mengenai faktor pemicu IBS, misalnya, riwayat infeksi pencernaan, makanan tertentu, obat-obatan, gangguan pada ekosistem mikrobiota usus, faktor psikososial (stres), dan faktor genetik.

Gambar 1: Potensi pemicu atau faktor pendukung IBS – pemahaman hingga saat ini (gambar diambil dari situs PMI Homeo).
Di antara kemungkinan faktor pendukung IBS, komponen psikososial adalah faktor yang kompleks. Memberi tahu pasien bahwa penyakit ini muncul hanya karena stres tidak akan banyak membantu, namun mengetahui riwayat dengan detail dan membangun impresi yang baik dapat membuat diskusi lebih lancar. Setelah mendapat diagnosis, pasien IBS umumnya membutuhkan panduan, edukasi, dukungan emosional, dan kunjungan lanjutan ketika gejala kambuh dan sulit ditangani.

Gambar 2: Interaksi usus-otak menunjukkan hubungan komunikasi yang kompleks, yang bekerja untuk memastikan usus berfungsi optimal. Gangguan pikiran akan mempengaruhi organ pencernaan; begitu pula sebaliknya, usus yang bermasalah akan berdampak pada otak (gambar diambil dari situs Dr Chiragthakkar).
Ibu Tam, usia 62 tahun, adalah salah satu contoh pasien IBS. Ia telah mengalami sindrom iritasi usus besar hampir 30 tahun. Gejalanya meliputi kram perut yang hilang-timbul, menyerupai gelombang, dan menyebabkan feses encer dan kekuningan. Ia tidak mengetahui penyebabnya, namun ia merasa lebih baik setelah buang air besar (BAB). Jika kondisi sedang buruk, episode gejala ini dapat muncul hingga enam kali dalam sehari, dan tidak dapat diprediksi. Volume diare juga tidak selalu banyak; terkadang yang keluar hanya sedikit feses seperti lendir, namun tidak berdarah. Awalnya, ia mengonsumsi obat yang dijual bebas, seperti Loperamide dan Buscopan. Namun, ketika obat ini tak lagi bekerja, ia mengunjungi dokter umum untuk mendapat suntikan intramuskular agar nyerinya mereda, dan mengonsumsi Lomotil dalam beberapa hari ke depan. Kualitas hidupnya pun memburuk. Ia menyadari beberapa jenis makanan yang tak dapat dikonsumsi, termasuk produk berbahan dasar susu, beberapa jenis buah dan sayur, dan hampir semua jenis polong dan kacang-kacangan. Selain itu, banyak jenis makanan lain yang memicu gejalanya, membuatnya sulit makan dan kehilangan berat badan yang signifikan. Dokter umumnya kemudian merujuknya ke dokter spesialis gastroenterologi. Ia menjalani endoskopi dan kolonoskopi, beserta tes laboratorium, ultrasonografi (USG), dan CT scan, yang tidak menunjukkan kelainan. Ia diresepkan berbagai obat-obatan, dan dalam sepuluh tahun ke belakang, ia telah berkonsultasi dengan beberapa dokter spesialis lain. Gejala umumnya membaik sementara, namun tidak pernah bertahan. Gejalanya akan kambuh dalam beberapa minggu setelah ia mengonsumsi obat-obatan. Ia diberi tahu bahwa ia menderita IBS dan telah diresepkan obat-obatan yang sama—antispasmodik (Meteospasmyl atau Duspatalin), Loperamide, dan yang terakhir, probiotik multi-strain. Ibu Tan sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, memilih untuk tidak menghadiri acara sosial atau berbelanja di akhir pekan, karena mencemaskan episode IBS yang tidak dapat ditebak.
Tentunya, IBS bukanlah masalah yang sederhana; kondisi ini dapat memburuk hingga secara signifikan berdampak buruk pada kualitas hidupnya. Walaupun kebanyakan pasien awalnya dapat merasa cemas, masalah dan gejala berulang yang dialami pasien dapat semakin menguatkan rasa takutnya. Selain itu, karena IBS adalah masalah interaksi usus-otak, merasakan kecemasan hebat tidak akan membantu, justru semakin memperkuat lingkaran setan dari pikiran yang kusut dan usus yang kacau. Jika hal ini terjadi pada lansia, kesendirian yang dirasakan akibat sindrom sarang kosong (empty next syndrome) hanya akan membuat mereka semakin terisolasi dari komunitasnya, dan berdampak negatif pada psikisnya. Jika IBS menyerang individu muda yang tengah meniti karir, hal ini dapat menyulitkan mereka untuk berfungsi di tempat kerja, terlambat menyelesaikan pekerjaan, hingga memutus kemungkinan mereka mendapat promosi dan kenaikan gaji, yang kemudian dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan moralnya.
Nona Ryuku, usia 35 tahun, seorang eksekutif di bidang keuangan dan wirausahawan, adalah wanita sukses. Ia adalah perancang yang cermat dan sistematis dengan cara kerja yang perfeksionis, dan memiliki dua orang anak. Kehidupan pribadi dan keluarganya tidak banyak berubah dalam sepuluh tahun terakhir sejak ia mulai bekerja dan meniti karirnya di perusahaannya. Namun, saat ia mencapai level manajerian kedua, pekerjaannya semakin berat. Ia sering kali diharuskan untuk berpergian ke luar kota, dalam negeri, bahkan terkadang ke luar negeri, hingga dua kali dalam seminggu. Ia berusaha untuk mengimbangi semuanya, dan walaupun ia awalnya menikmati adrenalinnya, lama-kelamaan ia lelah. Ia beberapa kali hanya mengonsumsi makanan dalam kemasan, makanan instan, kopi murah, dan minuman berenergi, serta tidak cukup tidur agar dapat membuat bosnya senang dan mencapai indikator kinerja utamanya. Walaupun ini membuat CV dan perusahaannya terlihat bagus, ia menukarnya dengan ketenangan pikirannya. Setahun sebelum ia mengunjungi saya, ia mengeluhkan beberapa insiden kram perut yang parah – pada awalnya di kanan, kemudian di kiri, dan terkadang di bagian bawah. Ia merasa perutnya bergas, mudah penuh walaupun hanya makan sedikit, kembung, dan terkadang mual. Gejala ini berlangsung beberapa minggu, dan seiring nafsu makannya yang menurun, begitu pula berat badannya. Sebulan setelah gejala muncul, selain gejala awal, ia mulai mengalami diare parah, yang dalam kondisi terburuknya, dapat terjadi 4-6 kali sehari. Ia merasa lebih baik setelah buang air besar (BAB), sehingga hampir dapat berfungsi normal. Namun, ia cemas kapan episode gejala berikutnya muncul. Ia sangat terpengaruh oleh hal ini, dan memutuskan untuk mengunjungi dokter spesialis di fasilitas kesehatan lain, dan menjalani endoskopi, kolonoskopi, tes darah, dan USG perut dan panggul, yang tidak menunjukkan kelainan. Ia tidak diberikan banyak informasi mengenai kondisinya, namun diresepkan Loperamide dan Duspatalin untuk dua minggu, yang meredakan gejalanya. Namun, setelah berhenti mengonsumsi obat-obatan tersebut, gejala muncul kembali, walau awalnya ringan, namun kini semakin parah. Ia tidak pernah melanjutkan kunjungan ke dokter karena kesibukannya, hingga akhirnya menyerah untuk mencari pengobatan lebih lanjut; ia meyakini bahwa ini adalah normal yang baru baginya, dan kondisi yang harus ia jalani.
Nona Ryuku tidak harus menderita sedemikian rupa. Penelitian modern, yang memberi pemahaman lebih baik mengenai IBS, telah memungkinkan adanya strategi baru untuk mengatasi gejalanya—baik itu melalui konseling, perubahan gaya hidup dan pola makan, suplemen probiotik, terapi medis, atau neuromodulator (seperti ansiolitik atau antidepresan). Namun, di Asia, konsep mengenai pasien yang diresepkan neuromodulator masih menjadi stigma, dan pasien kerap bertanya-tanya mengapa dokter meresepkan antidepresan untuk masalah pencernaan—namun, neuromodulator adalah salah satu obat-obatan terbaik yang telah menjalani pengujian yang ketat untuk mengatasi berbagai penyakit terkait interaksi usus-otak, termasuk IBS. Pasien membutuhkan penjelasan detail namun sederhana mengapa obat ini dibutuhkan ketika gejala IBS tak lagi dapat diatasi dengan metode penanganan lain, bagaimana obat ini membantu mengembalikan atau memperbaiki sensitivitas saraf seiring waktu, dan yang paling penting, bahwa obat-obatan ini tidak perlu dikonsumsi dalam jangka panjang. Meski meresepkan neuromodulator dapat terlihat sebagai langkah yang intens, penting untuk meyakinkan pasien, membantu mereka ketika mengalami efek samping, memberikan penjelasan yang detail, dan memberikan opsi penghentian obat. Namun, beberapa pasien dapat membutuhkan penanganan lebih lanjut melalui kerja sama dengan psikolog gastrointestinal, psikiater, dan dietisien. Jadi, tetaplah berpikiran terbuka saat dokter spesialis gastroenterologi Anda membahas topik kesehatan mental. Pada akhirnya, kita memang tengah berada di masa serbacepat, masa ketika semua orang terlalu sibuk mengurusi hal lain kecuali diri mereka sendiri.

Gambar 3: Bagan alur kerja kriteria diagnosis Rome IV untuk berbagai subtipe sindrom iritasi usus besar (gambar diambil dari situs emorymedicine).
Namun, tidak semua kondisi menunjukkan gejala IBS. Kita harus memahami bahwa kondisi lain juga dapat mempengaruhi usus kita. Beberapa gejala mungkin berlangsung terlalu singkat sehingga tidak mengkhawatirkan, namun gejala lain dapat bertahan lebih lama, atau lebih serius. Dokter menggunakan bagan alur kerja untuk membantu menentukan diagnosis IBS (lihat Gambar 3). Beberapa yang utama adalah durasi gejala, frekuensi dan tingkat intensitasnya, dan gejala yang hilang-timbul dengan pemicu yang jelas.
Dokter Anda dapat menyatukan kepingan-kepingan petunjuk tersebut untuk menanyakan riwayat medis Anda secara menyeluruh. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dokter Anda mungkin tanyakan, yang dapat membantu Anda mempersiapkan konsultasi:

Gambar 4: Gejala peringatan yang tidak boleh diabaikan, karena gejala berikut dapat membedakan IBS dari penyakit lain, atau penyakit yang lebih serius, misalnya penyakit radang usus besar, infeksi pencernaan kronis, dan kanker kolorektal (gambar diambil dari situs aboutibs.org).
Pasien dengan IBS yang belum terdiagnosis akan menjalani pemeriksaan laboratorium yang komprehensif, termasuk analisis darah dan feses. Tergantung pada usia pasien, faktor risiko, dan riwayat penyakit pencernaan dalam keluarga, pasien dapat disarankan menjalani evaluasi lanjutan dengan ultrasonografi (USG), endoskopi, dan kolonoskopi, tergantung pada kasusnya.
Cara Menangani IBS dan Meningkatkan Kualitas Hidup

Gambar 5: Gejala umum sindrom iritasi usus besar (IBS) – mengenali gejala Anda dapat membantu mengidentifikasi apa yang memicu gejala tersebut (gambar diambil dari situs The Los Angeles Times).
Salah satu langkah awal penanganan IBS adalah mengidentifikasi pemicu Anda. Jenis makanan tertentu, stres, atau gaya hidup sering kali memicu gejala IBS. Catat dengan detail makanan, gejala, dan aktivitas dapat menunjukkan pola. Ketika pemicunya sudah teridentifikasi, Anda dapat mulai mengurangi atau menghindarinya.
Dengan informasi ini, Anda dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan profesional untuk merancang penanganan yang dipersonalisasi. Kami mengerti betapa sulit hal ini, terutama di Penang, surga makanan, namun jika Anda berusaha untuk memperhatikan diet Anda, ini dapat berujung pada hasil yang positif.

Gambar 6: Kemungkinan pemicu sindrom iritasi usus besar, tidak semua orang merasakan hal yang sama – ketahui apa yang memicu Anda, dan berusahalah untuk menguranginya untuk meredakan gejala.
Diet memiliki peran penting dalam penanganan gejala IBS. Walaupun pemicu dapat berbeda-beda, penyesuaian diet berikut umumnya disarankan:

Gambar 7: Daftar singkat diet FODMAP agar pasien dapat menerapkan mindful eating dan mencatat makanan yang dikonsumsi tiap harinya, serta mencatat perbaikan pada gejala (gambar diambil dari situs IBS Group).

Gambar 8: Ilustrasi yang menggambarkan seperti apa asupan 25-30 gram serat. Dengan banyak informasi yang tersedia daring, membuat menu makanan akan relatif lebih sederhana (gambar diambil dari situs Auckland University of Technology).

Gambar 9: Makanan olahan dan ultra-process diketahui dapat mengganggu mikrobioma usus karena peradangan, dan memiliki kandungan FODMAP yang tinggi. Makanan ini juga mengandung sedikit serat, dan sebaliknya, tinggi zat pengemulsi (penstabil makanan) dan gula yang dapat memperparah iritasi usus dan peradangan.
Stres diketahui sebagai faktor yang memperparah IBS. Menerapkan teknik pengelolaan stres dapat meringankan gejala dan memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.

Gambar 10: Terapi kognitif perilaku berpusat pada pikiran, tindakan, dan perilaku pasien. Dengan memahami bagaimana pasien merespon situasi, ahli terapi dapat membantu mereka mengidentifikasi dan mengubah pikiran negatif dan perilaku pasien untuk memperbaiki emosi, suasana hati, dan fungsi otak secara keseluruhan (gambar diambil dari situs hopeway.org).
Bagi beberapa orang, perubahan diet dan gaya hidup mungkin tidak cukup. Beberapa opsi obat yang dijual bebas dan obat resep dapat membantu:

FGambar 11: Duspatalin – salah satu obat antispasmodik yang umum diresepkan untuk IBS di Malaysia (gambar diambil dari situs MMS Malaysia).

Gambar 12: HEXBIO MCP Granule, probiotik multistrain produksi dalam negeri yang dapat digunakan sebagai penanganan tambahan untuk semua subtipe IBS (gambar diambil dari situs brcobes.com).
Terlepas dari berbagai opsi farmakoterapi, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional mengenai opsi obat-obatan untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.
Menerapkan kebiasaan baik yang mendukung kesehatan sistem pencernaan Anda dapat meringankan gejala dalam jangka panjang:

Gambar 13: Pasang penghitung waktu selama 15-20 menit jika dibutuhkan, duduk alih-alih berdiri, fokus pada makanan tanpa distraksi (termasuk telepon genggam, buku, pekerjaan, dan TV), makan bersama teman dan keluarga, minum di antara tiap siapan, kunyah makanan perlahan, dan jadwalkan waktu khusus untuk makan, sehingga Anda tidak mudah kembali lapar, atau terburu-buru menghabiskan makanan.
Keberhasilan penanganan IBS sering kali membutuhkan kerja sama. Pastikan Anda tetap dapat menghubungi tenaga kesehatan Anda, terutama ketika gejala berubah atau masalah baru muncul.
Pendekatan lain dapat membantu meringankan gejala bagi sebagian orang:

Gambar 14: Minyak peppermint dan biji jintan mengandung zat spasmodik yang membantu mengurangi gejala nyeri dan kram perut, kembung, dan gas berlebih. Sayangnya, keduanya tidak tersedia di Malaysia. Keduanya dijual bebas di negara seperti Australia, Inggris, dan Kanada. Apakah suplemen ini dapat dibeli melalui berbagai platform e-commerce adalah isu lain. Namun, pastikan Anda melakukan riset sebelum membeli barang tersebut secara daring (gambar diambil dari situs ca.naturalfactors.com).
Riset IBS terus dilakukan, dan cara penanganan baru terus ditemukan. Ambil langkah proaktif dalam penanganan IBS:

Gambar 15: Ingat tanda peringatan Anda, dan ketahui gejala yang bukan terkait IBS (gambar diambil dari situs North Kansas City Hospital).
Walaupun IBS sering kali dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup dan diet, gejala tertentu membutuhkan evaluasi segera oleh tenaga kesehatan:
Gejala tersebut dapat mengindikasikan kondisi lain selain IBS, dan membutuhkan bantuan medis.
Mengidap IBS dapat membuat Anda mengalami kesulitan sehari-hari, namun dengan informasi yang tepat dan strategi yang proaktif, terdapat kemungkinan untuk meredakan gejala dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Dengan mengetahui pemicu Anda, menyesuaikan diet, mengelola stres, dan bekerja sama dengan tim tenaga kesehatan Anda, Anda dapat secara efektif mengontrol gejala IBS Anda. Ingat, kesabaran adalah kunci—pemulihan mungkin terasa lambat, namun konsistensi pada akhirnya akan terbayar. Ambil langkah sederhana, dan rayakan keberhasilan kecil Anda dalam prosesnya.